Rabu, 09 April 2014

Seorang Perantau Sebayaku




Kasaran nya sudah 8 bulan yang lalu sejak aku menebak bahwa aku bertemu dengan seorang perantau muda, yang sebaya dengan ku. Di perjalanan ku menuju tempat rantau ku, di tepat duduk didepan ku, tapi entah karna apa petugas menyuruh nya pindah tempat duduk nya, itu seperti larangan untuk ku untuk tidak memperhatikan perantau itu. 

Setelah sampai di kota rantau, aku sibuk dengan urusan ku sendiri dan pasti, sudah pasti perantau itu juga akan sibuk dengan urusan nya dikota rantauan nya, kota rantau yang sama denganku. Kota rantauan ini sangat luas, dengan banyak kota-kota kecil dan kabupaten didalamnya. Saat aku berada dalam urusan ku, siapa sangka, aku melihat lagi perantau itu, meski dengan jarak yang jauh aku yakin itu dia. Dengan jelas aku masih mengingat ciri-ciri nya, tinggi menjulang seperti pohon kelapa yang di terpa angin.. agak membungkuk, rambut tebal yang hitam dengan potongan seperti anak laki-laki pada umumnya, kulit yang putih namun tidak begitu putih seperti orang cina atau jepang atau barat. Ya, jelas itu dia, aku yakin. 

Suatu siang, panas terik sedang menerpa kota rantauan ini. Aku bersama seorang teman sedang berjalan menuju tempat tinggal ku. Kami berjalan-jalan-jalan dan ah! itu dia lagi didepan ku, sepertinya dia punya urusan yang harus diselesaikan nya, dia mengambil langkah yang panjang dan cepat, tapi tidak berlari. Dan dia berlalu..

Aku tidak mengingat dengan begitu jelas tapi perhitungan ku, sudah lebih dari 3 kali aku berpapasan dengan dia ditempat yang sama, atau didekat tempat itu, disebuah lahan tempat kendaraan beroda empat di susun saat pengendara nya sedang berurusan. Apa ini? hahaha aku menganggap nya sebuah kebetulan. 

Pernah juga saat aku sedang berjalan keluar untuk mencari makanan, saat itu hampir siang, belum tepat jam 12, aku berjalan dengan temanku, entah kenapa aku menoleh kebelakang, dan ya aku melihat perawakan perantau itu lagi, perantau yang tinggi itu. Dia mengenakan pakaian luar warna coklat, seperti biasa dengan langkah panjang dan cepat nya, aku sengaja memperlambat jalan ku supaya dia bisa mendahului kami. Hampir aku berteriak karna senang bisa melihat punggungnya dari belakang. Dia pun berlalu..

Sampai akhirnya aku tau nama nya, dan jenis kegiatan apa yang dilakukannya disini. Sosial media, adalah salah satu alat bantu ku menemukan nama nya. Terimakasih Teknologi..

Pernah dengan sengaja aku lewat tempat ia biasa berurusan, aku lewat dan ah! dia sedang menghadap jendela menghadap ku dan teman ku, sedang menuangkan air minum dari sebuah botol besar yang terbalik sambil sedikit menunduk. Seketika aku langsung membuang pandangan, aku tidak berani beradu tatap, entah dia melihat ku atau tidak, aku rasa aku harus mempercepat langkah ku, harus, sebelum aku semakin salah tingkah. Suatu waktu aku melakukannya lagi, sengaja lewat tempat ia berurusan, aku melihatnya lagi, kali ini dia sedang berdiri didepan dengan seorang wanita, aku rasa itu temannya, kelihatan nya mereka sedang menerangkan sesuatu kepada temannya yang lain yang sedang duduk dihadapan dia dan teman wanitanya tadi. Dari ruangan itu, dengan jendela disepanjang dindingan nya dengan tidak dipasangi gorden dac dengan kaca bening sebagai penghalang aku melihat nya, aku rasa dia sempat melirik keluar jendela dan ku harap melirik kearah ku, dan lagi lagi aku harus cepat membuang pandangan ku, aku begitu mudah salah tingkah. 

kisaran sebulan lalu.. perantau muda itu berulang tahun, aku juga tau itu dari salah satu akun sosial media nya yang membalas salah satu kiriman temannya yang mengucapkan selamat ulang tahun. Aku bisa menebak kalau ini adalah kali pertama dia hidup tanpa dikelilingi keluarnya, teman-teman nya, bahkan musuh-musuh nya. Dia sangat menawan, tubuh nya tinggi menjulang seperti pohon kelapa diterpa angin, agak membungkuk. Kasihan dia, pasti hanya sedikit orang yang mengingat hari bahagianya itu dan mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung kepadanya. Dan pasti, aku juga akan merasakannya..

Bisa kurasakan, atau mungkin itu memang terlihat saat dia berjalan, tepat nya saat berpapasan, dia dalam kesunyian. Dia selalu menunduk, dan mengambil langkah-langkah lebar dengan kaki yang panjang, dan kelihatan selalu terburu-buru. Ingin rasanya untuk sekedar ngobrol santai, entah membicarakan apapun, yang penting berbicara dengan dia. Dia kelihatan seperti orang yang pendiam, tapi sebenarnya juga tidak. Bisa kalian tangkap? mungkin begini, dia hanya akan akrab atau bisa lebih bersahabat hanya dengan orang-orang yang di anggapnya sudah dekat dengan nya. Dan aku.. mau menjadi orang terdekat nya, berbicara mengenai apapun, terbahak bersama, membicara kan orang bersama, makan bersama, jalan beriringan, duduk berdampingan, beradu pendapat sampai tak mau bicara lagi, kemudian saling meminta maaf. Mungkin akan menyenangkan.

Tapi kapan? aku tak punya alasan untuk melakukan semua hal itu. Siapa aku? siapa dia? kami tak saling mengenal, aku hanya sering melihat nya, sering memperhatikannya, sering memikirkannya, sering ingin berpapasan, sering ingin memanggilnya dan aku harap dia begitu, setidak nya pernah mengingat bahwa kami pernah berpapasan. Dari semua keinginan itu, jelas yang paling ku ingin kan adalah berkenalan, tapi bagaimana itu bisa terjadi, aku sama sekali tidak punya alasan untuk berkenalan. Mungkin sekedar mengagumi saja cukup, sekedarnya saja.


0 comments:

Posting Komentar